Opini

Sekilas Tentang Al-Azhar

Hamasah International

Lembaga ini awalnya didirikan sebagai masjid pada 14 Ramadhan 359 H (25 Juli 970 M). Pembangunannya memakan waktu dua tahun dan pertama kali digunakan untuk salat Jumat pada 7 Ramadhan 361 H. Masjid ini dirancang oleh arsitek berbakat, Jauhar As-Siqli (Abu Husein Jauhar bin Abdillah), seorang pemuda cerdas asal Sisilia, Italia, atas perintah Khalifah Muiz Lidinillah.

Seiring berjalannya waktu, Masjid Al-Azhar mengalami renovasi pada masa Khalifah Al Mustabillah dan Abdul Majid Al-Hafiz. Di bawah dorongan Dinasti Fatimiyah, masjid ini mulai beralih fungsi menjadi madrasah (tempat belajar). Setelah runtuhnya Dinasti Fatimiyah pada abad ke-12, Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi dari Dinasti Ayyubiyah sempat menutup Al Azhar sebelum akhirnya membukanya kembali sebagai pusat pembelajaran Sunni (Ahlu Sunnah wal Jamaah).

Pada masa Dinasti Mamluk, Al-Azhar berkembang pesat. Kesejahteraan guru dan murid sangat diperhatikan, serta banyak asrama dibangun di sekitar masjid. Meski saat itu terdapat sekitar 70 lembaga pendidikan Islam di Kairo, hanya Al-Azhar yang mampu menarik perhatian para pencari ilmu dari berbagai penjuru dunia karena reputasinya yang prestisius.

Pada masa dinasti Utsmaniyah, Al-Azhar berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam Sunni paling terkemuka di dunia. Salah satu kemajuan yang terjadi adalah terbentuknya hierarki jabatan yang diberikan kepada ulama-ulama terkemuka di Al-Azhar. Namun demikian, belum ada sistem akademik resmi yang diberlakukan; gelar kelulusan kala itu hanya diberikan langsung oleh para ulama kepada murid yang telah dinilai mumpuni dalam keilmuannya.

Social Media :

Postingan Lainnya